Oleh: Nabhan Aiqani

Kemuliaan Keilmuan (Epistemologi) Islam


Kamis, 03 September 2015 | 16:13:51 WIB
Illustrasi
Illustrasi / JAMBIUPDATE.COM

Pemerhati Sosial Politik UKM Pengenalan Hukum dan Politik Universitas Andalas

Dalam dunia yang serba dinamis, adalah sebuah silogisme dengan premis-premis mayor yang berujung pada konklusi bahwa Ilmu adalah jalan bagi seseorang untuk bisa mengelaborasi segala hal yang berkaitan dengan realitas dunia serta yang ada pada dirinya sendiri. Plato menyebutnya sebagai episteme, yaitu pengetahuan tunggal yang tetap sesuai dengan ide-ide abadi. Menjadi hal yang umum dimana konsep ilmu dan pengetahuan barat di jadikan rujukan filosofis keilmuan yang ada sekarang ini.

Sehingga, harus diakui bersama literatur akademik kontemporer merupakan dominasi dari pemikiran dan worldview filsuf-filsuf barat. Ranah pengetahuan dan akademik tak satu pun luput dari pengaruh pemikir barat.

Namun, problema muncul, ketika keilmuan dalam tradisi filsafat barat dimulai dengan landasan rasio (rasionalis) dan penginderaan (positivis). Plato menyebutnya sebagai realitas ganda. Bila mana pengetahuan akan dunia di tilik dari dua aspek ini, tentu akan mejerumuskan filosof pada cara berpikir yang sempit (narrow thinking). Kebenaran hanya akan dapat dicapai apabila objeknya dapat diuji melalui metode observasi ilmiah, empiris, rasional dan positivis. Mereka menyangkal segala bentuk eksistensi wahyu (revelation). Wahyu bukanlah suatu hal yang ilmiah dan irasional. Dengan begini, alam pikir (realm of thinking) keilmuan barat diarahkan pada penyangkalan terhadapeksistensi Tuhan.

Sekularisasi ilmu adalah kenyataan yang harus diterima, disaat keilmuan digiring untuk menolak kebenaran wahyu. Ini dapat terlihat dimana pada saat ini agama (kristen)-karena merujuk pada filsafat barat dan Kristen adalah agama dominan-hanya mendapatkan posisi pinggiran sampai saat ini, berbeda halnya ketika zaman pertengahan (medieval times), ketika agama (kristen) menjadi sentral peradaban barat. Hal ini untuk menunjukkan secara tegas perspektif positivis dalam memandang bahwa ilmu haruslah free value (bebas nilai). Atau dengan kata lain, semua embel-embel agama, budaya, etnis, rasial, haruslah ditanggalkan oleh para filosof. Ranah keilmuan merupakan doktrinisasi yang melihat bahwa kebenaran adalah suatu hal yang relatif, tidak ada satupun kebenaran yang absolut diatas dunia.

Segaris dengan pernyataan Hegel, bahwa pengetahuan adalah ongoing process, dimana apa yang diketahui akan terus berkembang. Tahapan atau teori yang telah dicapai, akan dapat “disangkal” oleh satu tahapan baru. Kedua tahapan yang saling bertentangan ini, kemudian akan menghasilkan sintesa  baru, yang nantinya juga akan dapat dinegasikan oleh tahapan baru lagi. Ia menyebutnya sebagai dialektika. Tak heran bila muncul diktum “manusia akhirnya dituhankan dan Tuhan pun dimanusiakan (man is deified and deity humanised)

Keistimewaan Filsafat Islam

Syed Naquib al Attas mengakui peradaban barat modern menghasilkan banyak ilmu yang bermanfaat, namun peradaban tersebut juga telah menyebabkan kerusakan dalam kehidupan manusia. Penolakan terhadap wahyu dan kepercayaan agama mengarahkan keilmuan itu sendiri kepada sekularisasi ilmu. Pada akhirnya Peradaban Barat modern membuat ilmu menjadi problematis.

Berbeda dengan tradisi filsafat barat, sejatinya, Ilmu merupakan produk dari pandangan alam (worldview) suatu bangsa, agama, budaya atau peradaban, dimana terkandung nilai-nilai moral (moral values) dan keyakinan akan kebenaran suatu masyarakat, sehingga ilmu menjadi tidak bebas nilai (free value). Hamid Zarkasy menyebutnya sebagai “pandangan alam secara islami” atau Islamic Worldview.

Oleh karenanya, kekhasan filsafat islam dalam menjelaskan keilmuan yang ada membuat ilmu pengetahuan mencapai tahapan tertinggi dalam sejarah, bahkan tradisi filsafat yunani kuno tidak mampu untuk mencapainya. Oliver Leaman dalam bukunya History of Islamic philosphy menyebut filsafat islam itu sangat filosofis dalam arti logis-analitis, terus hidup dan penuh gejolak, tidak sekadar melanjutkan tradisi sebelumnya, tetapi juga meperlihatkan terobosan terobosan kreatif dalam menjawab persoalan-persoalan klasik maupun modern.

Meskipun begitu, banyak dari pemikir barat beranggapan bahwa filsafat islam tidak memiliki landasan. Filsafat islam dinilai hanya melanjutkan pemikiran filosof-filosof Yunani dan tradisi keilmuan dari doktrin Yahudi-Nasrani. Dalam khazanah filsafat dunia muncul semacam “sesat pikir” bahwa filsafat islam hanyalah “jembatan peradaban” dari zaman kegelapan ke zaman pencerahan. Tidak ada tempat istimewa bagi Filsafat Islam dalam pandangan filosof barat yang anti dan cenderung mengarah kepada rasisme intelektual dengan memojokkan posisi dari filsafat islam, yang menurut Oliver Leaman, sangat luas dan kaya.

Untuk menjawab kontroversi dan kritikan sinis dari pemikir barat. Tentunya, harus dikedepankan dalil-dalil dan bukti sahih kekayaan intelektual pemikir Islam. Mengenai dalil, Al-qur’an telah menyuratkan dan menyiratkan dengan sangat jelas perihal anjuran bagi kaum musli untuk menuntut ilmu. Wahyu Allah yang pertama pun secara gamblang dapat diartikan sebagai perintah agar kaum muslim untuk membaca, jalan utama untuk mencapai pengetahuan dan keilmuan. Terbukti dengan penyebutan “al-ilm” atau ilmu yang sebanyak 823 kali. Dapat disimpulkan, landasan fundamental dari tradisi keilmuan islam, tak lain adalah Al-qur’an dan Hadits (Dr. Adian Husaini, 2013)

Bahkan disaat bangsa Eropa tengah berada dalam era dark age, Imuwan Islam justru dengan gilang gemilangnya berhasil menemukan banyak penemuan baru dalam sejarah manusia. Nama-nama seperti Al-khawarizmi, Ibnu Sina, al-Biruni, Ibnu Haitsam (Alhazen) yang berjasa banyak dalam sains dan teknologi, serta Ibnu Khaldun, Al-Farabi, Ibnu Taimiyah yang dikenal sebagai ilmuwan sosial, selain itu ada al-Kindi, ibnu-Rusyd, Al-arabi, tokoh-tokoh peletak dasar-dasar filsafat Islam. Al-Ghazali yang secara tegas menolak segala bentuk tradisi filsafat, juga menambah kompleksnya keilmuan filsafat islam.

Keberhasilan renaissance bangsa Eropa tidak bisa dilepaskan dari sumbangsih pemikir-pemikir islam yang waktu itu bermukim di Andalusia (Spanyol)

Kembali pada Islam

Selaku muslim dan negara dengan jumlah muslim terbesar, sudah sewajarnya kita kembali kepada tujuan dan pedoman hidup, Al-qur’an dan Hadits. Kekayaan intelektual muslim yang ditunjukkan dengan berbagai pemikiran dan penemuan para pemikir dan ulama Islam kenamaan zaman dahulu, harusnya membuat kita bangga dan kembali pada Islam sebagai tuntunan hidup.

Islam bukan hanya agama, namun way of life atau pegangan dalam memandang dunia (islamic worldview). Tradisi keilmuan atau filsafat islam tidak lain berlandaskan atas keimanan kepada Allah Swt. selaku pencipta dan tidak ada yang kita ketahui kecuali atas izin dari-Nya. Dengan semakin tingginya ilmu seseorang, ketakwaan dan ketaatan kepada Allah akan semakin meningkat pula. Sebab, ilmu yang kita miliki tidak ada apa-apanya dibanding Ilmu Allah.

Islam tidak pernah melarang untuk berpikir secara rasional dan empiris, selagi itu tidak menyalahi aqidah. Karena pada dasarnya, kewajiban menuntut ilmu adalah wajib bagi setiap muslim, dengan tujuan tak lain hanya semata mengharapkan ridho dari Allah Swt.

Terakhir, manusia harus sedapat mungkin menghidarkan diri terjebak pada fatamorgana keilmuan yang kering dan gersang. Penghambaan secara berlebihan pada rasio dan penginderaan manusia yang sangat terbatas untuk menggapai kebenaran, justru akan mengarahkan manusia pada lorong kehidupan tanpa makna. Ilmu yang didapatkan tidak memiliki pengaruh terhadap zahir dan bathin. Hingga akhirnya, tidak ada yang didapat selain terjeremus pada keinginan untuk memenuhi hasrat nafsu duniawi belaka.

(*)



Sumber: JAMBIUPDATE.COM

Advertisement

Komentar Anda