Harapan dan Kenyataan Petani Karet


Jumat, 23 Maret 2018 | 17:39:51 WIB
ilustrasi
ilustrasi /

Oleh : Dedy Marjuki

Indonesia tercatat sebagai salah satu negara penghasil karet alam terbesar di dunia, bersaing dengan Thailand, Malaysia, Vietnam dan India. Sekitar 85% produksi karet Indonesia dialokasikan untuk pasar ekspor, antara lain ke negara-negara Asia, Amerika Serikat (AS), China, Jepang, Singapura, dan Brazil. Sedangkan di dalam negeri, produksi karet alam Indonesia lebih banyak diserap oleh industri manufaktur khususnya di sektor otomotif.

Meski potensi pasarnya besar, namun sejak 2011 harga jual komoditas karet masih mengalami pelemehan, termasuk untuk harga di pasar internasional. Hal itu lantas menjadikan nilai ekspor karet alam Indonesia ke dunia turun dengan tren 20,69% pada periode 2012-2016, sedangkan volume ekspornya tidak berubah signifikan.

Merosotnya harga getah karet di sejumlah sentra penghasil karet dalam wilayah Provinsi Jambi  membuat petani karet semakin tercekik dan hanya bisa pasrah. Apalagi harga jual getah karet tidak seimbang dengan harga kebutuhan pokok.

Padahal, petani karet berharap perekonomian di tanah air bakal membaik. Namun, hingga  kini harapan tersebut pupus sudah. Terlebih memasuki musim penghujan seperti sekarang ini, kualitas getah karet terus menurun.

Sudah bertahun-tahun, jika boleh dirunut semejak 3 hingga 4 tahun belakangan harga karet nyaris tidak pernah mengalami kenaikan harga lagi. Bahkan cenderung turun alias semakin anjlok. Keadaan ini tentunya menjadi sebuah dilema sekaligus  derita berkepanjangan para petani karet yang menggantungkan hidupnya dari hasil karet.

Sebuah tangis sekaligus derita bagi para petani, itu sudah pasti. Hasil karet menjadikan satu-satunya sumber penghidupan sehari-hari , jika boleh dikata, karet adalah nafas bagi mereka para petani. Mengingat harga karet di tingkat penampung di tingkat bawah saat  dikisaran Rp 6.000-Rp 9.000 /Kilogram saja.

Derita lainnnya yang acap kali menimpa nasib para petani adalah tentang faktor cuaca. Bila musim penghujan tiba, hampir dipastikan para petani sulit untuk menoreh (menyadap karet) sebagai hasil. Sedangkan jika musim panas berkepanjangan, hasil sadapan karet (air karet) akan menyusut. Dua faktor ini pula yang terkadang penambah derita panjang dikala keperluan mendesak memaksakan namun berlawanan dengan keadaan cuaca yang sering kali tidak bersahabat.

Ketika musim hujan petani karet tidak bisa melakukan aktifitasnya sebagaimana semestinya ketika musim panas. Kalau dihitung-hitung, rata-rata petani ini menghabiskan waktu selama 5 - 6 hari untuk mendapatkan getah karet seberat 25 kg. Apabila dijual dengan harga Rp7.000;/ kg, berarti jumlahnya Rp175.000; itu selama 5-6 hari bahkan seminggu.

Dulu, tahun 2010 hingga tahun 2013, harga karet bisa mencapai Rp 15.000- Rp 20.000, itu di tahun 2010. Tahun 2011-2012, kisaran harga Rp 15.000-Rp 12.000 dan tahun 2012- 2013, turun lagi dari kisaran Rp 12.000, Rp 10.000 dan Rp 8.000. Sedangkan diawal tahun 2014 sampai saat ini, harga hanya tinggal tersisa Rp 6.500 bahkan saat ini harga karet hanya Rp 6.000 atau dengan kata lain harga tersebut hanya bisa membeli sebungkus kopi dan gula pasir.

Terbayang kan, betapa menjeritnya para petani karet dengan pendapatan sedemikian kecil. Coba bayangkan kalau harga karet naik berkisar 10-20 ribu, tentu para petani ini sedikit terbantu dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhannya.

Banyak petani karet juga sering menggudangkan atau menyimpan hasil getah karetnya untuk menunggu harga jual naik, tetapi itu percuma saja, karena menunggu beberapa minggu atau bulan juga harganya tidak berubah. Terpaksa harus menjualnya sebelum getah karet lapuk.

Merosotnya harga komoditas karet ini membuat daya beli petani makin rendah. Akibatnya, banyak petani karet mulai beranjak mengubah lahan untuk ditanami variatas lainya yang lebih menjanjikan.

Dari pengakuan para petani karet di tingkat bawah, ada beberapa persoalan mendasar yang dihadapi oleh petani karet khususnya di Jambi saat ini . Pertama, masih merajalelanya para tengkulak. Kedua, proses penimbangan yang rawan sekali kecurangan. Ada trik-trik penimbangan yang merugikan petani, validitas keakuratan angka timbangan, spesifikasi getah yang kering dan potongan kilo setiap kali timbang sebagai biaya menimbang.

Dan yang ketiga, panjangnya rantai penjualan yang sama sekali tidak memberikan nilai tambah petani. Sebagai contoh: petani menjual karetnya ke tengkulak B dengan harga murah, lalu tengkulak B menjual lagi tengkulak C dengan harga yang lebih tinggi, kemudian tengkulak C menjual kembali ke tengkulak D, dan kemudian ke pabrik. Rantai penjualan yang panjang inilah yang membuat petani menderita.

Sebagai komoditas unggulan, maka sudah sepatutnya ada perhatian serius dari pemerintah terhadap nasib para petani karet ini.

Pertama, untuk memutus mata rantai penjualan yang panjang dan  menghisap, maka koperasi desa bisa menjadi alatnya. Koperasi inilah yang akan mengorganisir pengumpulan dan pendistribusian/penjualan hasil produksi petani karet.

Ke-dua, pemerintah Kabupaten/kota dan Provinsi perlu memberikan insentif produksi kepada petani untuk mengurangi beban biaya produksi.

Ke-tiga, mendorong realisasi program hilirisasi karet dalam negeri, yakni pengembangan industri olahan karet menjadi beragam produk turunan yang memiliki nilai tambah tinggi, seperti bahan baku aspal, bahan tepian tempat kapal bersandar, sapu tangan karet, industri ban, dan lain-lain. Dengan begitu, produksi karet tidak hanya untuk melayani ekspor, tetapi juga bisa diserap oleh kebutuhan dalam negeri.

Ke-empat, memberlakukan sistim resi gudang yang menguntungkan petani. Untuk itu, perlu ada keterlibatan BUMD dan Bank Pemerintah/Daerah.

Peraturan Gubernur Jambi tentang penstabilan harga karet yang telah diterbitkan oleh Gubernur Jambi Zumi Zola pada 2016 yang lalu hingga saat ini, belum juga membawa dampak bagi para petani karet di Jambi. Padahal , masyarakat petani karet Jambi sangat mengharapkan ada perubahan harga karet untuk merubah kehidupan mereka yang terpuruk.

Kini, petani karet hanya bisa pasrah sembari menunggu ada jalan keluar serta kejelasan yang akan dilakukan pemerintah menangani persoalan murahnya harga karet yang merupakan salah satu komoditi unggulan di wilayah ini.

Sementara Pemerintah Indonesia  sendiri menyimpulkan bahwa perkebunan Rakyat (PR) komoditi karet ini menyumbang devisa cukup besar kepada Negara selain migas, namun eksistensi petani karet yang tergabung dalam kelompok tani dan koperasi belum cukup memadai. Baik infrastrukur, manajemen, maupun sarana pendukung lainnya, yang lebih mendasar ada tiga pokok penting yaitu budidaya, pengolahan, dan pemasaran, ketiga aspek ini petani karet perlu mendapatkan bantuan.

Namun sejak empat tahun terakhir harga jual tertinggi karet hanya berkisar sekitar (-) dari Rp9.000 per kilogramnya. Harga itu dinilai hanya mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari petani karet. Sehingga untuk memenuhi kebutuhan lain petani karet harus mencari kerja sampingan.Warga menilai jika kondisi harga karet seperti ini terus bertahan hingga 3 hingga 5 tahun lagi, kemungkinan besar petani karet sudah langka atau petani beralih ke komoditas yang lebih menjanjikan seiring kebutuhan hidup yang semakin meningkat.

Nasib petani karet seperti terabaikan,  siapa yang sebenarnya bertanggungjawab dengan hal ini?. Entahlah, sampai kapan para petani terus menjerit. Tidak terbayangkan bagaimana jika petani karet tidak ada, bisakah para pengusaha, para pejabat menaiki mobil ataupun motor mewah yang menggunakan ban yang bahan bakunya dari karet?.

Tangis mereka memang tidak terlihat, ataupun memang mereka menahan atau bahkan mereka sudah biasa dengan beban harga turun ini?. Hanya mereka yang tahu, tetapi sesungguhnya kita bisa merasakan jerit tangis mereka. Semoga para petani karet selalu semangat untuk terus menoreh/menyadap karet walau sulit karena harga selangit.

 

 

Penulis: Dedy Marjuki, Penulis adalah staf di KPPBC Jambi
Editor: yms

Advertisement

Komentar Anda