Duka Kembali Menyelimuti Dunia Penerbangan Tanah Air


Minggu, 04 November 2018 | 21:28:51 WIB
/

Indonesia merupakan negara kepulauan yang terbesar didunia, jangkauan antara satu pulau kepulau yang lain memiliki jarang tempuh yang jauh, terdiri dari 17.499 pulau dari Sabang hingga Merauke. Dengan jarak yang begitu jauh dari satu daerah kedaerah lain tersebut, alat transportasi yang paling cocok bagi penduduk Indonesia adalah pesawat terbang, karena transportasi ini dinilai merupakan alat transportasi umum yang memiliki standar keamanan yang tinggi. Transportasi ini juga dianggap lebih meminimalisir efisiensi waktu walau pun dengan jarak tempuh yang jauh, dengan demikian kegiatan bisnis, liburan, urusan dinas menjadi lancar. Bayangkan jika keberangatan menuju Jakarta dari Padang Sumatera Barat, maka waktu yang dihabiskan kurang lebih tiga hari. Berbeda dengan pesawat terbang hanya membutuhkan waktu 1.5 jam saja. Atas dasar inilah pesawat terbang menjadi pilihan bagi masyarakat dalam menjangkau daerah-daerah yang jauh dan berpotensi akan memakan waktu yang lama jika menggunakan transportasi darat dan laut.

Menjelang akhir tahun 2018, Indonesia merundung duka yang tak berkesudahan. Kesedihan turut kita rasakan ketika saudara kita didaerah lain terkena musibah bencana alam, kecelakaan dan lain-lain, karena sesungguhnya kita semua adalah bersaudara serta dipersatukan dalam bingkai kebhinekaan. Masih jernih di ingatan kita, ketika 29 Juli 2018 Pulau Lombok di Provinsi Nusa Tenggara Barat diguncang gempa bumi berkekuatan 6,4 skala richter. Selesai di Lombok, pada tanggal 28 September 2018 Palu, Donggala dan Parigi Moutong kembali terkena musibah gempa berkekuatan 7,8 skala ritchter sekaligus tsunami. Ratusan bahkah ribuan nyawa menjadi korban pasca musibah tersebut, rumah-rumah warga rusak/roboh, aktivitas terhambat, jalan putus, listrik mati menjadi pelengkap penderitaan saudara kita disana.

Tak habis disitu, sepekan terakhir duka kembali menyelimuti tanah air, insiden kecelakaan pesawat Lion Air JT610 tujuan Jakarta-Pangkal Pinang yang di kemandoi oleh pilot Bhavye Suneja asal India, membawa 189 penumpang termasuk awak kabin pesawat,dinyatakan hilang kontak pada senin 29 Oktober 2018. Setelah 13 menit mengudara pada pukul 06.33 WIB, pesawat beregister PK-LQP itu jatuh diperairan Karawang Jawa Barat dalam ketinggian mencapai 2.500 feet. Duka mendalam kembali dirasakan oleh para keluarga korban, pencarian oleh Basarnas dan dibantu oleh Pertamina serta melibatkan relawan dengan gesit melakukan pencarian korban. Kejadian ini merupakan yang kesekian kalinya maskapai Lion Air mengalami kecelakaan udara. Terakhir kecelakaan pesawat Lion Air yaitu tujuan Bnadung-Bali pada tahun 2013. Pesawat Boing 737-800 rute Bandung-Denpasar ini terjun ke laut, di sekitar Bandara Ngurah Rai, Bali pada Sabtu 13 April sore itu.

Pesawat berlogo singa merah ini merupakan pesawat yang terhitung sangat ekonomis bagi masyarakat, dengan demikian maskapai ini sangat di gemari oleh masyarakat yang melakukan perjalanan dinas, liburan dan bisnis. Namun, maskapai ini kerap kali terjadi kecelakaan yang merenggut korban jiwa. Ironisnya yang terjadi di perairan Karawang tidak ada satu pun korban yang selamat. Miris memang musibah ini, namun siapakah yang harus bertanggung jawab terkait insiden ini ?

Jatuhnya pesawat Lion Air JT610 adalah kecelakaan terparah kedua dalam sejarah penerbangan yang terjadi di Indonesia yang terjadi di tengah membaiknya rekor keselamatan, menurut Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). Ia mengatakan kecelakaan Lion Air ini adalah yang terparah kedua sejak Garuda Indonesia Airbus A300 di Medan pada 1997 dengan 234 penumpang dan awak kabin meninggal dunia.  Rentetan peristiwa kecelakaan ini tentu harus menjadi fokus kepada pihak terkait, sudah saatnya serius dalam penyelesaian persoalan ini agar insiden ini tidak terulang lagi.

Pesawat Murah, Namun Minim Keselamatan

Apa pun itu, apa bila terbilang murah memang minim kualitas, hal ini juga terjadi pada maskapai Lion Air. Dengan jatuhnya pesawat ini, kedepannya lebih dapat di jadikan renungan bagi masyarakat, bahwa keselamatan dalam perjalanan menjadi penting di bandingkan dengan hal apa pun. Selanjutnya, pihak maskapai harus lebih selektif sebelum melakukan penerbangan, karena yang di bawa adalah manusia di dalamnya, oleh sebab itu keselamatan menjadi penting apa bila pihak maskapai tidak mau di rugikan. Sesuai dengan ketentuan Undang-Undang penerbangan, maka setiap korban akan mendapatkan ganti rugi, selaras dengan ketentuan (UU penerbangan Pasal 141 ayat 1 No.1 Tahun 2009):”Pengangkut bertanggung jawab atas kerugian penumpang yang meninggal dunia, cacat tetap, atau luka-luka yang diakibatkan kejadian angkutan udara didalam pesawat dan/atau naik turun pesawat udara.”Mengingat kecelakaan Lion Air JT610 ini, tidak satu pun penumpang yang selamat, maka setiap keluarga korban akan mendapatkan ganti rugi sebesar Rp. 1.25 Miliar sesuai dengan ketentuan Undang-Undang penerbangan di negeri ini. Namun, bagi keluarga uang sebanyak itu tidaklah sebanding dengan nyawa keluarga mereka yang hilang dalam sekejap mata. 

Penulis: Erman Episabri Mahasiswa Universitas Andalas, Jurusan Ilmu Politik
Editor: yms
Sumber: Suarajambi.com

Advertisement

Komentar Anda