SUARAJAMBI.COM- Bea Cukai Jambi kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung pertumbuhan industri berorientasi ekspor dengan menghadiri kegiatan ekspor perdana berupa RBD Palm Olein sebanyak 6.000 ton oleh PT Kurnia Tunggal Nugraha, perusahaan yang telah resmi memperoleh fasilitas Kawasan Berikat.
Kegiatan ini turut dihadiri oleh Kanwil DJBC Sumatera Bagian Timur, Kanwil DJPB Provinsi Jambi, Plt. Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jambi, Bea Cukai Jambi, Bea Cukai Palembang, KPP Pratama Jambi Telanaipura, serta KPP Pratama Pelayangan.
Fasilitas Kawasan Berikat merupakan salah satu instrumen fiskal yang diberikan pemerintah untuk meningkatkan daya saing industri nasional. Melalui fasilitas ini, perusahaan memperoleh berbagai kemudahan di bidang kepabeanan, termasuk penangguhan bea masuk dan tidak dipungut pajak dalam rangka impor atas pemasukan bahan baku yang akan diolah, dirakit, atau digunakan untuk tujuan ekspor.
Kepala Kantor Bea Cukai Jambi menyampaikan bahwa momentum ini menandai babak baru bagi optimalisasi fasilitas fiskal di daerah.
“Hari ini yang kita lepas bukan sekadar ekspor. Ini adalah ekspor perdana PT Kurnia Tunggal Nugraha setelah memperoleh fasilitas Kawasan Berikat. Bagi Bea Cukai Jambi, ini menjadi awal untuk melihat apakah fasilitas yang diberikan negara benar-benar dapat diterjemahkan menjadi kegiatan ekonomi yang lebih besar,” ujar Kepala Kantor Bea Cukai Jambi.
Meski PT Kurnia Tunggal Nugraha telah lama memiliki aktivitas produksi, kehadiran status Kawasan Berikat ini diyakini mampu mendongkrak efisiensi proses bisnis secara menyeluruh serta membuka ruang ekspansi yang lebih luas bagi perusahaan.
Dalam menjalankan fungsi pelayanannya, Bea Cukai senantiasa memegang prinsip keseimbangan antara fasilitasi perdagangan dan pengawasan yang ketat.
“Peran kami ada dua dan keduanya harus berjalan bersama: melayani sekaligus mengawasi. Kami memberikan kemudahan kepada perusahaan yang memenuhi persyaratan, tetapi pengawasan, IT inventory, administrasi, dan akuntabilitasnya juga harus tetap kuat,” tambahnya.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa ukuran keberhasilan utama dari pemberian fasilitas fiskal ini bukan sekadar administratif semata, melainkan dampak nyatanya bagi perekonomian regional.
“Fasilitas bukan tujuan akhir. Fasilitas harus menjadi economic enabler—mendorong investasi, ekspor, lapangan kerja, dan nilai tambah bagi Jambi, dengan pengawasan yang tetap kuat.”
“Kami ingin memastikan kehadiran Bea Cukai memberikan nilai tambah yang nyata bagi perekonomian, bukan hanya menyelesaikan proses administrasi,” imbuhnya.
Ekspor perdana melalui Kawasan Berikat ini turut menjadi indikator positif bagi iklim investasi di Provinsi Jambi, sekaligus mendukung percepatan program hilirisasi industri nasional. Sinergi yang kuat antara pemerintah dan dunia usaha diharapkan mampu membuat rantai pasok lokal dan penyerapan tenaga kerja bergerak semakin optimal.
“Harapan kami, ekspor hari ini bukan menjadi titik akhir, tetapi titik awal. Industri tumbuh, ekspor meningkat, lapangan kerja bertambah, ekonomi Jambi bergerak—dan semuanya tetap dalam tata kelola dan pengawasan yang baik,” pungkasnya. (*)






















